<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Jangan dibaca</title>
	<atom:link href="http://takujihing.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://takujihing.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 29 Jun 2009 05:45:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='takujihing.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Jangan dibaca</title>
		<link>http://takujihing.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://takujihing.wordpress.com/osd.xml" title="Jangan dibaca" />
	<atom:link rel='hub' href='http://takujihing.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Iblis Tidur</title>
		<link>http://takujihing.wordpress.com/2009/06/29/iblis-tidur/</link>
		<comments>http://takujihing.wordpress.com/2009/06/29/iblis-tidur/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2009 05:10:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ilhamwele</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://takujihing.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Akulah pemilik mata merah. Memyeret-nyeret kaki di trotoar yang terang dan gelap berselang-seling. Bibirku mengapit sebatang LA Menthol. Jadilah mulutku bak knalpot mobil tahun tujuh puluhan. Seperti pisau, udara malam menusuk belulangku, setelah berhasil menembus kemeja dan pori-poriku. Aku tahu bahwa diriku kedinginan, tapi aku melepaskan jasku dan menggantungkannya di salah satu pundak. Bukan apa-apa,ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=takujihing.wordpress.com&amp;blog=8364701&amp;post=7&amp;subd=takujihing&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Akulah pemilik mata merah. Memyeret-nyeret kaki di trotoar yang terang dan gelap berselang-seling. Bibirku mengapit sebatang LA Menthol. Jadilah mulutku bak knalpot mobil tahun tujuh puluhan. Seperti pisau, udara malam menusuk belulangku, setelah berhasil menembus kemeja dan pori-poriku. Aku tahu bahwa diriku kedinginan, tapi aku melepaskan jasku dan menggantungkannya di salah satu pundak. Bukan apa-apa,ini karena tuntutan. Bukankah tuntutan dari orang yang stres itu mesti berpakaian acak-acakan? Kemejaku pun kancingnya lepas sebagian dan dasi kujadikan penutup mata. Aku ingin tidur!<span id="more-7"></span><br />
Akulah pemilik mata retak. Menyusup di sela-sela bangunan raksasa. Jalan-jalan telah lengang, hanya beberapa mobil yang kadang berhenti di samping wanita ber-make up menor dan ketika mobil tersebut jalan lagi, wanita tadi hilang dari tempatnya.</p>
<p>Agaknya cuaca mendung, dari tadi angin bertiup kencang. Orang-orang telah lari ke balik selimut. Aku pun ingin begitu, sangat capek. Saat malam bertandang, memarahi karyawan yang kerjaannya nge-game terus siang tadi, cukup meremas-remas otakku. Inilah waktunya bermanja di springbed. Namun keempukan kasur dan kehangatan selimut tak lebih hanyalah sebagai fasilitas untuk mendapatkan kenyenyakan tidur.</p>
<p>Sialnya, yang kudapat cuma sebatas fasilitas. Meskipun mataku telah memerah darah berbentuk retakan laksana bengkakan tanah di musim kemarau, tetap saja aku tak dapat tidur lelap. Tidur nyenyakku telah diambil Tuhan!</p>
<p>Terkadang aku hampir sinting, jika memikirkannya, bisa-bisanya para gembel tidur tenang. Padahal mereka tidak tahu, apakah besok mereka akan makan sampah atau makian orang. Bisa saja mereka sarapan dengan air got karena dua kecerobohan, karena bangun kesiangan dan memilih pelataran ruko yang salah. Kadang pemilik ruko bangun lebih pagi dan kebetulan ia adalah seorang tiran. Tak segan orang macam ini mengguyur gembel yang tidur di pelataran rukonya dengan air got.</p>
<p>&#8220;Pergi pembawa sial, nanti toko saya bau gembel!&#8221;</p>
<p>Lantas apa yang salah denganku, hingga aku harus menanggung kutukan ini. Padahal makananku terjamin kehegienisannya dan sarat gizi, kediamanku tangguh, suhu di dalamnya mampu beradaptasi terhadap pergeseran musim. Jangan pertanyakan berapa jumlah uangku, sebab aku sudah lupa berapa jumlahnya.</p>
<p>Bermacam cara telah kujalani, dari berkonsultasi dengan dokter sampai mendekorasi kamar sedemikian rupa. Suatu kali, aku pernah bertemu seorang profesor yang bernama Najmuddin yang tak begitu kukenal. Dari bola mata dan kantung mataku, ia tahu bahwa aku termasuk orang jepang yang mengidap insomnia. Katanya, tidurlah di bawah pendar lampu biru violet, itu bisa membuat rileks dan mensugesti tidur. Tapi semuanya nihil. Aku muak dengan semua itu.</p>
<p>Kucari alternatif lain, yang sempat terpikir adalah jalan religius. Bukankah Tuhan yang berkuasa atas segala makhluknya? Karena itu, sehabis misa di Hari Minggu, aku rutin membuat pengakuan dosa. Mungkin saja dalam diriku ada dosa yang menggelisahkanku. Sering juga aku menangkupkankan tanganku di hadapan Tuhan Yesus. Tapi, tampaknya Tuhanku yang satu ini tuli, sebab permintaanku tak kunjung diluluskan olehnya. Apakah aku salah berasumsi bahwa Yesus itu adalah Tuhan? Ataukah sebaiknya aku kembali kepada Tuhanku yang dulu saja? Tuhan Matahari. Oh,tidak!!! Dia bukannya membantuku, malah sebaliknya, cahayanya itu sangat menyilaukan.</p>
<p>****</p>
<p>Bawang putih busuk menggantung dimana-mana dengan bau yang anyir, belum lagi asap kemenyan yang menyesakkan. Ruangan tempat aku berada sekarang tidak mempunyai jendela.Pengap. Hanya dipendari jajaran lilin yang meliuk-liukkan apinya. Temboknya dilapisi kain hitam. Dengan bergidik, kulirik di pojok meja rendah di hadapanku, teronggok tengkorak tempurung kepala. Entah asli atau hanya manipulasi.</p>
<p>Kemarin…</p>
<p>Hari ini bukan Minggu, melainkan Jum&#8217;at. Makanya, orang yang lari pagi hari ini tampaknya cuma aku seorang. Mayoritas orang disibukkan oleh rutinitas masing-masing. Aku? Aku tak masuk kerja. Lagipula,siapa yang berani memecat pemilik saham terbesar?.</p>
<p>Sebelumnya, asaku nyaris putus, hingga kudengar perkataan orang bijak,&#8221;capek adalah obat tidur paling mujarab”.Baiklah, tekadku sudah membatu. Mungkin saja staminaku ini perlu dikuras habis-habisan. Setidaknya, aku pingsan setelah berlari seharian tanpa makan dan minum. Matahari mulai memanjat langit saat aku siap dengan trainingku. Langkah menuju tidur pun dimulai.</p>
<p>****</p>
<p>Kakiku mulai pegal. Kutengok arlojiku, baru pukul 08.00. Penat. Kubaringkan tubuhku di kursi halte. Semoga bisa tertidur. Hingga 15 menit, tak kudapatkan tidurku. Yang kudapat hanya malu dari orang-orang yang menatapku heran. Aku berpikir ini belum cukup. Aku pun kembali berlari.</p>
<p>****</p>
<p>Lututku lepas…!! Itu jika lutut ini ber-cap &#8220;Made in China&#8221;. Matahari telah mencapai puncaknya. Garang. Kali ini aku takkan berhenti kecuali pingsan. Mukaku basah kuyup oleh keringat, meliuk-liuk dilekukan wajahku dan berakhir di ujung dagu. Lidahku kemarau. Dehirasi ringan akan membuatku pingsan. Pasti.</p>
<p>Jalanku mulai zig-zag, serupa modus petir Dewa Zeus. Bunyi klakson menitahku menyingkir ke pinggir jalan.</p>
<p>“Bug!!!”</p>
<p>Spion Strada membentur lenganku. Berputar-putar sebelum akhirnya aku terrsandar di bawah Pohon Akasia. Seseorang di jok pengemudi menghardikku.</p>
<p>&#8220;Jepang edan! Udah mata sipit, naruhnya di dengkul lagi. Nggak liat apa mobil segede gini?!&#8221; Strada berlalu dan menghadiahiku karbon dari knalpot.</p>
<p>Tak sengaja, di seberang sana, di halaman Mesjid At-Tanwir, dengan samar kulihat pemandangan ganjil. Seketika bola mataku lepas dari cangkangnya. Mulutku dimasuki seekor lalat karena dikira sebuah gua. Tubuhku lumutan. Dengan terburu-buru aku seberangi jalan ke arah mesjid. Aku mengendap-ngendap di selasar pagar mesjid untuk mendekat, demi memastikan pemandangan di luar nalarku itu.</p>
<p>Berkali-kali kukucek mataku, kupukul pipiku, kugigit lidahku, dan semua itu sakit. Ini bukan mimpi. Pemuda bertopi bundar itu benar-benar tidur di halaman ini!</p>
<p>Karena di dalam mesjid penuh, sebagian jemaa menghamparkan sejenis taplak berbulu di halaman mesjid. Selagi orang berjubah yang berdiri di atas semacam tangga beratap memberikan petuah, di halaman ini, pemuda bertopi bundar itu menelungkup. Padahal matahari tengah garang dan juga halaman ini berkerikil, tentunya tidak nyaman diduduki. Lebih-lebih disini bising, diakibatkan oleh lalu-lalangnya motor orang yang rendah moralnya.</p>
<p>Aku harus tahu rahasianya. Dengan mengintip dan menguping, akhirnya teman di samping pemuda itu menyenggolnya.</p>
<p>“Wooii… bangun!!! Cepat wudhu, bentar lagi Shalat Jum&#8217;at!&#8221;.</p>
<p>Dengan malas pemuda itu membuka matanya sambil menguap kudanil. Saat meregangkan otot dia berujar,&#8221;Setiap kali khutbah pasti gue ngantuk mulu&#8221;.</p>
<p>&#8220;Mata lo itu emang digantungin Iblis mulu,&#8221;timpal temannya.</p>
<p>Aku terperangah dengan dahi kumal. Iblis? Aku harus mencari iblis, biar nanti kusuruh dia menidurkanku. Setahuku yang mempunyai relasi dengan iblis adalah dukun, karena itulah aku bisa sampai di tempat ini yang dikelilingi asap dupa ini.</p>
<p>&#8220;Anda ingin kaya kan?&#8221; tebak Mbah setelah mencium kerisnya.</p>
<p>&#8220;Saya sudah kaya,&#8221; sahutku dingin.</p>
<p>“Oh…maaf, belakangan ini Mbah kurang konsentrasi, jadi sering ngelantur, he…he…, silahkan, apa keperluan anda?&#8221;</p>
<p>&#8220;Pertemukan saya dengan iblis!&#8221; pintaku mantap.</p>
<p>****</p>
<p>“Praang!!! “</p>
<p>Kubanting botol kaca kecil yang berisi kertas itu, pemberian dari Mbah yang tidak cuma-cuma. Katanya gulungan itu surat rekomendasi untuk iblis dan harus dilarutkan di sungai di malam Jum’at Kliwon. Karena penasaran, aku iseng membuka tutup botol itu. Brengsek! Ternyata kertas di dalamnya cuma bekas lembar kertas soal ulangan. Aku pun murka. Bukan karena habis lima juta, melainkan karena kebodohanku. Bisa-bisanya aku yang jenius ini percaya dukun, atau aku sudah ini benar-benar sudah gila.</p>
<p>Sudah kuputuskan dengan bulat, Jum&#8217;at pekan ini aku akan ke mesjid akan kukorek informasi tentang Iblis. Setahuku, Iblis itu adalah makhluk yang menyesatkan, dan punya tanduk. Entah iblis macam apa yang dimaksud oleh pemuda bertopi bundar itu. Iblis tidur, mungkin.</p>
<p>Aku berangkat ke mesjid dengan seragam yang lengkap. Memakai topi bundar, baju koko dan celana kain. Sebenarnya aku ingin memekai sarung, tapi susah.</p>
<p>Aku kikuk berbaur dengan jemaat yang asing bagiku. Orang-orang di sekelilingku menjabat tanganku. Akrab. Namun, aku agak canggung, sebab tidak terbiasa berjabat tangan dengan orang yang tidak dikenal.</p>
<p>Orang berjubah putih menaiki tangga beratap, dan petuah pun mengalir. Beberapa orang benar-benar tertidur. Petuah itu terdengar seperti nina bobo telingaku. Entah sugesti darimana&#8212;dan aku tidak bisa mendeskripsikannya &#8211;mataku terasa berat. Leherku capek menahan kepala yang semakin berbobot, hingga daguku menempel di dada, sampai akhirnya aku tak sadarkan diri.</p>
<p>Sesaat kemudian…</p>
<p>&#8220;Mas, bangun! Shola!!&#8221; seseorang membangunkanku.</p>
<p>Membangunkanku?!</p>
<p>****</p>
<p>Aku hampir saja histeris karena terlewat senang, jika tidak sadar bahwa aku berada di mesjid. Inikah hawa iblis? Aku akan menjalin relasi dengannya. Jika sudah akrab, kuajak saja dia ke rumah, agar di rumah pun aku bisa tidur.</p>
<p>Seusai shalat. Langkah pertama kusenggol orang di sampingku dan bertanya.</p>
<p>&#8220;Saya pengidap insomia. Anehnya, ketika petuah tadi dibacakan saya pun tertidur. Bisakah anda memberitahu saya,iblis macam apa yang menidurkan saya tadi?&#8221;.</p>
<p>Dia sempat bingung, namun segera menguasai keadaan.</p>
<p>&#8220;Saya kurang paham maksud pertanyaan saudara. Tetapi yang jelas, yang menidurkan anda tadi itu adalah Allah, Tuhan yang tidak pernah tidur&#8221;.</p>
<p>Allah? Jadi bukan iblis.</p>
<p>&#8220;Terserah siapa pun orangnya, tapi bisakah anda membantu saya menciptakan relasi antara saya dengan orang yang menidurkanku tadi?” Aku pun bicara blak-blakan, tanpa peduli ketahuan bahwa aku adalah non islam.</p>
<p>&#8220;Insya Allah,&#8221;jawab Profesor Najamuddin yang awalnya tidak kusadari.</p>
<p>Insya Allah?.Istilah apa lagi itu? Kuanggap saja itu sebagai ungkapan deal, sebab kulihat tadi dia mengangguk.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/takujihing.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/takujihing.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/takujihing.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/takujihing.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/takujihing.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/takujihing.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/takujihing.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/takujihing.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/takujihing.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/takujihing.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/takujihing.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/takujihing.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/takujihing.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/takujihing.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=takujihing.wordpress.com&amp;blog=8364701&amp;post=7&amp;subd=takujihing&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://takujihing.wordpress.com/2009/06/29/iblis-tidur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/117ae10270b33983c0102520be3c81d0?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ilhamwele</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Persiapan Aruh Blogger</title>
		<link>http://takujihing.wordpress.com/2009/06/29/persiapan-aruh-blogger/</link>
		<comments>http://takujihing.wordpress.com/2009/06/29/persiapan-aruh-blogger/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2009 05:07:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ilhamwele</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://takujihing.wordpress.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Gila! Gue seneng banget bisa kedaftar di gathering Aruh Blogger (AB). Baru kedafta aja udah seneng nggak maen-maen, apa lagi pas ikutannya. Padahal gue blogger dadakan. Pas ada di AB aja gue ada dikit tampang blogger (Emang tampang blogger itu kayak apa?) Sebenarnya udah lama gue punya blog, tapi gue telantarin. Malas, ah. Coz, di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=takujihing.wordpress.com&amp;blog=8364701&amp;post=4&amp;subd=takujihing&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gila! Gue seneng banget bisa kedaftar di gathering Aruh Blogger (AB). Baru kedafta aja udah seneng nggak maen-maen, apa lagi pas ikutannya. Padahal gue blogger dadakan. Pas ada di AB aja gue ada dikit tampang blogger (Emang tampang blogger itu kayak apa?)<br />
<span id="more-4"></span><br />
Sebenarnya udah lama gue punya blog, tapi gue telantarin. Malas, ah. Coz, di Al Falah OL syusye. Pas dapat kabar ada AB dari Zian.tk (taman kanak-kanak hu..hu&#8230;) gue jadi kepingin ikutan.</p>
<p>Waktu libur bulanan yang cuman satu hari doang, gue langsung lari ke Kyagi. Yah, gue nengok blog gue, apa masih idup ato udah jadi blog terjelek segalaksi Bima sakti dan sekitarnya? Rupanya masih bernyawa!</p>
<p>Blog gue ada tiga. Gue hapus dua. Jadi sisa satu (ya iyalah anak kecil juga tauk). Nah, yang satu-satunya itu yang akan gue permak. Gue pasang salju kursor. Terus gue googling, nyari tempalte yang oke. Dapat! Dari allblogtools. Tapi gue nggak bisa make templatenya. Kenapa? Karena gue bukan blog. Serius, beneran lho semua template yang pengen gue pasang ditolak mentah-mentah oleh blogspot. Katanya, template error.</p>
<p>Untung ada si tk. Dia ngeloyor masuk ke box gue.</p>
<p>“Kenapa?”</p>
<p>Templatenya error mulu.”</p>
<p>Tanpa kata, dia merampas mouse dari tangan gue (sukur nggak gue teriakin, maliiiii&#8230;..nggg!!!). Klik sana, klik sini.</p>
<p>“Gimana kalo pake template yang ini?”</p>
<p>Gue pura-pura mikir,”Oke juga.”</p>
<p>Dia ajarin gue tata krama make template dari allblogtools (Emang bagus-bagus tapi sering ditolak blogspot) biar blogspot nerima dengan suka cita. Uereka! Sukses! Template yang asalnya error, jadi bisa dipake. Ujar si tk, “Teknik ini nggak ada di buku blog mana pun.” Gue nggak tau si tk dapat dari mana tuh teknik. Bahkan gue punya temen yang blogmania, dia nggak tau teknik ini. Pas temen gue itu mo masangin template dari allblogtools di blog temannya, gagal, karena nggka nerapin tekinik seperti si tk. Yang berubah cuman headernya doang.</p>
<p>Mo tau tekniknya apa? </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/takujihing.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/takujihing.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/takujihing.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/takujihing.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/takujihing.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/takujihing.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/takujihing.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/takujihing.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/takujihing.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/takujihing.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/takujihing.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/takujihing.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/takujihing.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/takujihing.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=takujihing.wordpress.com&amp;blog=8364701&amp;post=4&amp;subd=takujihing&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://takujihing.wordpress.com/2009/06/29/persiapan-aruh-blogger/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/117ae10270b33983c0102520be3c81d0?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ilhamwele</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tolong Aku!</title>
		<link>http://takujihing.wordpress.com/2009/06/29/tolong-aku/</link>
		<comments>http://takujihing.wordpress.com/2009/06/29/tolong-aku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2009 04:11:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ilhamwele</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://takujihing.wordpress.com/2009/06/29/tolong-aku/</guid>
		<description><![CDATA[Saat umurku dua bulan, ayahku meninggal, berarti ibuku menjanda. Ibuku itulah satu-satunya yang mengajariku bagaimana trik masuk surga. Kata ibuku, ayahku orang yang budiman. Makanya dia berujar,”Sayang, pokoknya apa yang kamu mau, bisa didapatkan di surga. Bahkan kamu bisa bertemu ayahmu di sana.” Diajak shalat, aku manut saja, karena dua alasan : pertama, mushalla komplek, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=takujihing.wordpress.com&amp;blog=8364701&amp;post=3&amp;subd=takujihing&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat umurku dua bulan, ayahku meninggal, berarti ibuku menjanda. Ibuku itulah satu-satunya yang mengajariku bagaimana trik masuk surga.<br />
	Kata ibuku, ayahku orang yang budiman. Makanya dia berujar,”Sayang, pokoknya apa yang kamu mau, bisa didapatkan di surga. Bahkan kamu bisa bertemu ayahmu di sana.”<br />
	Diajak shalat, aku manut saja, karena   dua alasan :    pertama,     mushalla komplek, tempat biasa aku shalat, adalah sekaligus tempat bermain di malam hari, kedua, aku ingin masuk surga!<br />
<span id="more-3"></span></p>
<p>	Disuruh puasa, aku menurut juga karena dua alasan,: pertama, aku malu sama teman-teman jika tidak puasa sebab semuanya puasa, kedua, aku ingin masuk surga!!<br />
	Diajari ngaji oleh Ustadz Raffi, yang sekaligus merangkap jadi ayah baruku, aku sanggupi juga karena dua alasan: pertama, aku takut dimarahinya, kedua aku ingin masuk surga!!!<br />
	Orang kebanyakan jika ditanya, kenapa ingin masuk surga? Jawabannya mungkin adalah ingin merasakan betapa lezatnya nikmat di surga. Namun aku tidak demikian. Aku punya motif terselubung. Tapi sayang, untuk sementara aku malas membicarakannya. Mohon jangan paksa aku.</p>
<p>*****</p>
<p>	Awalnya sebelum Ustadz Raffi menikahi ibuku, dia mengajarkan mengaji di mushalla komplek, dan tinggal di rumah sewaan yang cukup jauh dari pemukiman, tepatnya di sebelah timur komplek.<br />
	Sewaktu Ustadz Raffi baru bermukim di komplek Kayuh Baimbai ini, warga tidak terlalu mengenalnya, bahkan sampai saat ini. Terhitung dari tiga tahun silam, saat di mana Ustadz Raffi terseok-seok menjinjing tas besar, hingga sekarang, dia dikenal hanya sebatas santri dari sebuah pondok pesantren di Jatim. Cuma sampai di situ. Tak lebih barang sedikit pun. Terkecuali setelah dia menikah dengan ibuku, ada sedikit tambahan, namun aku tak ingin mengatakannya saat ini.<br />
	Kala itu berhubung penggawa mushalla komplek telah menginjak usia udzur dan ingin beristirahat, bidikan menancap pada Ustadz Raffi, yang ternyata seorang pengangguran, sebagai pengganti.<br />
	Jadilah dia yang mengelola mushalla. Dan orang ini membuka TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an).  Setelah dia duduk bersama ibuku di pelaminan, dia melepas TPA-nya, dan dilanjutkan oleh penerus.<br />
“Biar lebih khusyu’ ibadah dan fokus mengurus rumahtangga,” katanya.<br />
	Benar- benar selaksa malaikat. Siapa yang tidak bangga punya ayah baru seumpama ini?<br />
*****<br />
	Jika  bel pulang bertugas, aku selalu melongo. Bukannya aku anak yang kelewat manja, tetapi aku benar-benar iri lagi dengki, kalau aku mendapati tubuh mungilku ini di gerbang SDN Surgi Mufti 5.<br />
	Selalu saja aku melewati gerbang ini sebatangkara. Sedangkan Andini ditunutun ayahnya yang polisi itu. Kalau Mia, anak manja itu, pasti menempel di punggung ayahnya.<br />
	Kalau Ayah sibuk, setidaknya Ibu atau Kakak yang menjemput. Seperti Sabrina, selalu ibunya yang menyambut di gerbang. Untuk Andre, kakaknya yang turun tangan.<br />
	Walau ingin, tapi aku tak ingin egois. Kasihan ibuku. Secara fisik, dia tidaklah tampak memiliki jantung yang lemah, namun sebenarnya,  sudah tiga tahun ini Beliau bolak-balik ke dokter jantung.  Mana mungkin aku menerima tawaran ibuku tercinta untuk menjemputku, sementara suatu saat dia bisa saja tumbang.<br />
	Ayah baruku?  Kelihatannya dia tak punya inisiatif sedikit pun untuk menjemputku. Entah mengapa. Sibuk ibadah, mungkin. Aku pun tak ingin dijemput olehnya. Itu ada alasannya. Untuk sementara aku malas membicaraknnya. Mohon jangan paksa aku.<br />
*****<br />
Sepulang sekolah ada kegemparan. Di jalan depan gerbang sekolah, teman-teman ramai. Aku memaksa menyeruak masuk ke kerumunan, sampai-sampai buku latihan bahasa Indonesia-ku, yang dijejali nilai sempurna, lecek.<br />
	Di tengah kerumunan itu ada Erika yang nangis-nangis. Seseorang, yang aku ya-kini dia adalah ayah Erika, menenangkannya. Di sudut kerumunan kulihat ada pria dengan pakaian acak-acakan. Dia terkapar bersama wajah bonyoknya.<br />
	“Ada apa?” tanyaku pada Rio.<br />
	“Preman itu tadi mau memalak Erika. Untung, ayah Erika keburu datang.  Habis itu premannya marah-marah dan ngajakin be-rantem. Untung ayah Erika hebat be-rantemnya. Mampus tuh preman. Rasain lho!”<br />
	Wah … aksi heroik!<br />
	Teman-teman , semuanya tepuk ta-ngan dan teriak,<br />
	“Hore…! Hore….!”<br />
	Perlahan Erika akhirnya tersenyum. Pasti bangga kepada ayah yang melindunginya itu.<br />
	Oleh suatu perasaan, aku tertarik mundur dari khalayak dalam bisu. Bahuku guncang. Mohon jangan usik aku dengan pertanyaan,”Kenapa kamu nangis?”<br />
                                *****<br />
	Hari ini Bu Asmarina, guru bahasa Indonesia kami, memberi tugas menga-rang dengan tema “ayah”. Lantas aku pura-pura sakit. Cukup menerapkan pose menelungkup   di meja,            aku          yang    murid   teladan ini tentu akan ditanya Bu Asmarina,<br />
	“Kamu sakit, Rina?”<br />
	Aku mengangkat wajah.<br />
	“Rina, muka kamu pucat!” tanggap Bu Asmarina.<br />
	Pucat? Oh iya, belakangan ini aku memang sulit tidur karena suatu alasan.<br />
	Beberapa menit sesudahnya, siapa pun bisa menemuiku di UKS. Aku tersedu sepeninggal Novi, teman sebangkuku yang tadi mengantarku ke sini.  Atas permohonanku sendiri dengan alasan supaya dia tidak ketinggalan pelajaran, dia mau meninggalkanku. Aku tak ingin dilihat seseorang di saat seperti ini.<br />
	Inilah wujud asliku. Sepintas aku adalah tembok Cina, sangat tegar. Kalau saja mau lebih jeli sedikit, aku ini tak lebih kuat dari kayu dengan luka akibat rayap, lapuk, sangat rapuh. Atau kausebut saja aku agar-agar.<br />
	Bu Asmarina pasti tidak curiga bahwa aku lari dari tugas kali ini. Terserah jika ingin mengataiku sombong, namun aku ini benar-benar jenius. Dan di antara matapelajaran yang mudah itu, Bahasa Indonesia paling kukuasai. Bukan apa-apa. Aku Cuma hendak memastikan bahwa Bu Asmarina tak mungkin mencurigaiku.<br />
	Otak kananku bisa saja mengarang karakter ayah super. Dan itu akan mendustai diri sendiri, pikirku, jika kulakukan. Mungkin saja aku mengambil sampel ayahnya Erika, tapi itu hal memalukan. Otak kiriku mendobrak-dobrak daya khayalku dengan segala realita yang digiringnya, kenyataan yang pahit.<br />
                        *****<br />
Suatu kali aku ingin mengutarakan bebanku kepada Ibu. Tapi saat pupil mataku menangkap sosok itu, bersileweran jantung-jantung yang kapan pun bisa mogok mendadak. Aku tak setega itu.<br />
	Lain kali ibu mendapatiku menangis di kamar. Sebetulnya ibuku baru datang dari pengajian malam Minggu, pulang sehabis isya.<br />
	“Ayah, Rina kenapa?” tanya ibu, hampir berbenturan dengan ayah baruku di muara pintu kamarku.<br />
	“Nggak tau. Dari tadi nangis terus. Ditanya kenapa, dia diam saja. Tolong ibu saja yang menenangkannya. Saya mau keluar dulu,” cerocos ayah baruku.<br />
	Dia pun berlalu sambil berdehem. Deheman berat yang  hanya dipahami oleh sebagian orang.<br />
	Ibu masuk ke kamar, lalu mengusap ubun-ubunku. Sedari tadi aku memeluk lutut dan menyembunyikan wajah di baliknya.<br />
	“Sayang, ada apa?” Suara ibu lembut.<br />
	Hampir saja aku gegabah dengan menyampaikan kesulitanku, jika aku tidak mengangkat kepala, menatapnya. Benar, jantung-jantung itu masih hilir mudik.<br />
	“Sayang, cerita dong sama mama, ada apa?”<br />
	Aku cepat-cepat menghapus airmata, dan menggeleng. Sedetik kemudian, aku tenggelam di dekapan Ibu.</p>
<p>*****<br />
	Semoga saja tidak terlambat, kenalkan, ini ayah baruku. Orang itu tidak bekerja lagi semenjak menikah dengan ibuku. Dia beralasan, seperti yang sudah kukatakan, agar fokus ke ibadah dan rumahtangga. Dia tidak lagi sibuk dengan dunia. Malaikat, bukan?<br />
	Jika aku sering menjatuhkan airmata ibu dengan prestasi, malaikat ini pun sering menguras airmataku. Ah, tahukah, betapa pilunya bagian yang kedua itu? Di situlah perbedaannya.<br />
	Hari ini pun, saat Ibu tak ada, aku menangis sejadi-jadinya.<br />
	Aku tak sempat kabur ketika menyadari malaikat hadir dengan seringainya. Bahkan hari ini lebih menyakitkan dari sebelum-sebelum ini. Aku berdarah-darah lebih melimpah. Sama melimpahnya dengan airmataku.<br />
	Sungguh selama ini, aku ingin beramah-tamah, tetapi kali ini, aku sudah tak tahan lagi. Sebetulnya malaikat itu iblis! Jauh-hauh hari telah kukatakan, ada sedikit tambahan informasi setelah dia menikahi ibuku, yaitu dia punya kelainan.<br />
	Hatiku perih mendengar derekan resleting. Apalah arti kecerdasan. Apa gunanya prestasi? Piala berderet-deret itu cuma diam! Lagi-lagi lenguhan itu menghujam bayang-bayang masa depanku, yang telah suram lagi curam.<br />
	Jauh di alam kalapku, pisau dapur itu kuinginkan mengakhiri segalanya. Apakah aku atau iblis itu yang harus meninggalkan nama di nisan? Terserah!<br />
	Lagi-lagi aku disentak sesuatu. Seandainya itu kulakukan, aku takkan ma-suk surga. Padahal aku aku ada keperluan di sana.<br />
	Mentalku remuk berserpih-serpih. Jika diperbolehkan, izinkan aku melibat-kanmu di cerita ini. Jadilah tempat cur-hatku. Baiklah, kau sebenarnya ingin tahu apa alasanku masuk surga, meski itu tak penting bagimu.<br />
	Aku ini masih bocah, mempunyai keinginan seperti Erika! Jika masuk  surga, aku cuma ingin mengatakan pada ayahku di sana, bahwa aku sungguh membutuhkan ayah, yang sebagian darahnya mengalir di diriku. Aku ingin mengadu kepadanya bahwa ayah baruku telah menyakitiku, tak berperasaan. Aku minta belas kasihan, pembelaan, seperti Erika.<br />
	Aku tak butuh ayah baru macam iblis laknat terkutuk itu! Sekali lagi kutegaskan, aku butuh ayah yang melindungiku, bukan yang suka meniduriku!!! []</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/takujihing.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/takujihing.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/takujihing.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/takujihing.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/takujihing.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/takujihing.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/takujihing.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/takujihing.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/takujihing.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/takujihing.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/takujihing.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/takujihing.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/takujihing.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/takujihing.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=takujihing.wordpress.com&amp;blog=8364701&amp;post=3&amp;subd=takujihing&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://takujihing.wordpress.com/2009/06/29/tolong-aku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/117ae10270b33983c0102520be3c81d0?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ilhamwele</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
